Menjaga Api, Bukan Abunya
KH Hasyim Asy’ari pernah berkata, “Jangan tinggalkan tradisi lama yang baik, dan jangan menolak hal baru yang lebih baik.” Dalam pusaran teknologi hari ini, kata-kata itu seperti peta tua yang masih sangat relevan.
Santri di masa kini hidup dalam dua dunia: dunia pesantren yang sunyi, sarat adab dan ilmu; dan dunia digital yang bising, penuh arus dan kecepatan. Dulu, alat utama santri adalah pena dan kitab. Kini, ia harus bisa pula mengoperasikan laptop, mengelola konten, bahkan menjaga akhlak di media sosial.
Lalu bagaimana posisi santri era digital di tengah gelombang besar perubahan zaman ini?
1. Kitab Kuning: Warisan Peradaban yang Harus Dipegang
Kitab kuning bukan hanya teks, ia adalah cara berpikir. Ia menuntun santri era digital untuk melihat sesuatu dari banyak sisi, menimbang hukum, memahami konteks. Kitab kuning melatih kesabaran dan keikhlasan dalam belajar.
Namun dunia hari ini adalah dunia kecepatan, dunia ‘swipe’, dunia ‘instan’. Di sinilah tantangan besar itu muncul: bagaimana menjaga tradisi berpikir mendalam di tengah kebiasaan membaca singkat dan scrolling tak henti?
Seorang santri digital harus mampu menjembatani dua dunia ini, bukan dengan menjiplak, tapi dengan mencipta.
2. Keyboard: Senjata Baru Dakwah dan Ilmu
Keyboard bisa digunakan untuk banyak hal: menulis status tak penting, menyebar kebencian, atau… menjadi alat dakwah dan pencerahan. Di sinilah nilai santri diuji. Apakah keyboard-nya menyuarakan ilmu, atau hanya jadi gema dari keramaian tanpa makna?
Santri bisa dan harus hadir di ruang digital—di YouTube, TikTok, Instagram, Twitter, dengan satu misi: menebar cahaya, bukan kebisingan.
Bayangkan jika Imam Ghazali punya akun Medium. Atau Imam Nawawi punya channel YouTube. Mereka tak akan menjual diri, tapi menyampaikan cahaya dalam bahasa zaman.
3. Tantangan Santri Digital: Adab di Tengah Algoritma
Algoritma media sosial tak pernah mempertimbangkan adab. Ia hanya tahu apa yang menarik, bukan apa yang benar. Maka, santri harus dua kali lipat waspada. Popularitas bukan tolok ukur kebenaran. Viral belum tentu membawa maslahat.
Di sini, pelajaran dari pesantren menjadi bekal penting: diam sebelum bicara, berpikir sebelum menulis, niat sebelum bertindak.
Media sosial membuat semua orang bisa bicara. Tapi hanya sedikit yang benar-benar menyampaikan hikmah.
4. Santri dan Strategi: Menjadi Penggerak, Bukan Pengikut
Banyak santri era digital yang bisa membuat konten. Tapi berapa banyak yang tahu arah? Santri digital harus tahu narasi besar apa yang sedang terjadi: Islam diframing, agama dijadikan komoditas, tradisi dianggap usang.
Maka santri bukan sekadar kreator konten. Ia pejuang narasi. Ia harus berani membela akhlak dengan konten. Berani memperkenalkan pesantren sebagai pusat kemajuan, bukan hanya tempat ‘ngaji’.
Kita butuh santri yang paham TikTok, tapi juga paham maqashid syariah.
5. Jangan Jadi Asing di Dunia Sendiri
Kadang kita melihat santri merasa minder saat memasuki ruang digital. Seolah teknologi bukan dunianya. Padahal, tradisi keilmuan pesantren lebih tua daripada mesin pencari mana pun.
Santri harus tahu: ia bukan tertinggal. Ia hanya sedang menunggu waktu untuk tampil—dengan bekal yang matang, bukan asal cepat.
Teknologi bukan lawan. Ia adalah alat. Dan santri harus jadi nahkodanya.
6. Menutup Dengan Doa, Membuka Dengan Tindakan
Jika santri zaman dulu menulis dengan tinta dan mencetak dengan batu litografi, maka santri hari ini menulis dengan keyboard dan menyebarkannya lewat cloud. Tetapi esensinya sama: menyampaikan ilmu. Menyampaikan cahaya.
Santri tak harus berubah menjadi ‘influencer’. Tapi santri harus mempengaruhi. Dengan keteladanan, ilmu, sikap, dan tutur.
Santri boleh menundukkan dunia digital, asal jangan tunduk pada dunia.
Dari Kitab ke Keyboard, Tanpa Kehilangan Kalbu
Santri hari ini dituntut untuk lebih luas dari gurunya. Lebih fleksibel dari zaman ayahnya. Tapi ia tak boleh kehilangan jiwanya. Kitab tetap di tangan kiri, keyboard di tangan kanan. Dan hati tetap menghadap ke langit.
Sebab tugas santri bukan sekadar hadir di dunia. Tapi menjadi cahaya dalam dunia yang gelap.