Pohon jati yang lurus dan kuat, biasanya lebih dulu ditebang…
Kalimat itu berbisik di hati kami saat kabar itu datang. Kabar tentang wafatnya Gus Alamudin Dimyati Rois — putra dari seorang kiai yang tidak hanya dikenal, tapi juga dirasakan oleh banyak hati: Almaghfurlah KH. Dimyati Rois.
Dari dulu, kami mengenal beliau (Almaghfurlah KH. Dimyati Rois) sebagai kiai yang seolah dikirim langsung oleh langit. Seorang ‘alim yang ilmunya menyejukkan, seorang wali yang tutur dan tindakannya sering membuat orang terkesiap: “kok iso ngerti sadurunge kelakon?”
Beliau kaya. Tapi kekayaannya tak menempel di hati. Mobil mewah hanya kendaraan biasa untuk mengangkut padi. Rumah besar tak menghalangi beliau duduk bersila di antara petani dan rakyat biasa.
Beliau tidak netral, karena bagi beliau diam kadang tak cukup. Di negeri yang digerakkan oleh partai, beliau memilih turun. Tidak demi jabatan, tapi demi mendekatkan nurani kepada kebijakan. Beliau tidak alergi pada politik, karena politik adalah jalan untuk menghidupkan maslahat.
Satu larangan minuman keras yang diwujudkan negara, bisa lebih berguna dari seribu dalil yang hanya berakhir di mimbar.
Dan kini, saat kami masih belajar menata rindu karena perginya Kiai Dimyati, kami terhibur. Karena ada sosok yang melanjutkan napas dan langkahnya: Gus Alamudin. Geraknya mirip, jiwanya menyambung. ‘Alim. Kaya. Membumi. Dan mau membersamai umat lewat partai.
Namun, hari ini — 6 Mei 2025— seakan menjadi jeda yang berat untuk kami teruskan. Gus Alamudin menyusul abahnya. Bahkan sehari sebelum haul ketiga abahnya itu digelar.
Seolah mereka tak ingin dipisahkan terlalu lama…
Dan kami, yang tinggal, hanya bisa duduk diam. Ada air mata yang jatuh tanpa suara. Ada hati yang bertanya tanpa bisa menjawab:
“Di mana lagi kami akan menemukan Kiai seperti mereka…?”
Tapi hidup harus terus berjalan. Dan jalan itu tetap harus diiringi doa, karena mereka tidak benar-benar pergi. Mereka pulang.
Dan kita, semoga bisa meneruskan jejak mereka, meski dengan langkah kecil dan hati yang selalu belajar.
Allahu yarhamhuma…