Dulu, Mbah Marzuqi Mustamar juga pernah diberhentikan saat menjabat sebagai ketua tanfidziyah PWNU Jawa Timur secara sepihak tanpa tabayyun, padahal tinggal 3 bulan lagi menuju konferwil. Tetapi beliau memilih legowo, sami’na wa atho’na kepada para kiai sepuh. Teladan yang sungguh luhur.
Meski para santri Mbah waktu itu sempat “bergemuruh”, mempertanyakan kenapa tidak menunggu konferwil yang hanya tinggal 3 bulan, kenapa tidak tabayyun dulu, dan lain-lain. namun karena melihat keteladanan beliau, gejolak itu akhirnya bisa mereda.
Fenomena yang terjadi pada tokoh lain akhir-akhir ini tampak mirip, tetapi penyikapannya berbeda. Lebih baik teladan yang mana? Silakan menilai sendiri.
Kini, Hizb Nashor dan Sholawat Asghil Mbah Marzuqi sudah menemukan tempat berlabuh. Kalau kami boleh berceloteh sedikit kepada pihak yang dahulu memberhentikan Mbah Marzuqi yang sekarang saling berdebat, mungkin kami cukup menyuguhkan nasi goreng sambil berkata:
Monggo, njenengan raosaken piyambak.
In Frame dari Kiri ke Kanan : KH. Marzuqi Mustamar – Imam Mujtahid (Bapak) – Muhammad Fathurrozaq
(Momen saat KH. Marzuqi Mustamar Berkunjung ke rumah bapak di Trenggalek)
Baca juga : https://raihbareng.com/mengenang-kh-dimyati-rois-dan-gus-alamudin/