Peristiwa di Luar Nalar dan Kitab Hasyiyah Bajuri

Kitab hasyiyah Bajuri dan Kurma Tunisia

Momen bulan Ramadhan

Saat bulan Ramadhan 2025, kami berkeliling untuk ngalap berkah kepada Kiai-Kiai sepuh yang ada di Malang Raya. Kami memiliki ghirah yang tinggi untuk bisa memprioritaskan sowan kepada Kiai-Kiai sepuh daripada Kiai-Kiai muda. Kiai sepuh hidup di masa yang kita belum ada di masa itu. Kiai sepuh mengerti apa yang tidak kita mengerti di masa itu.

Sampailah kami di rumah salah satu Kiai sepuh yang rumahnya di pojok desa. Beliau tidak memiliki pondok pesantren maupun ribuan santri di rumahnya. Rumahnya sangat sederhana, di barat Mushola kecil serta bersanding dengan pagupon burung. Kalau orang yang tidak kenal, pasti menganggap beliau hanya petani atau orang kampung biasa.

Terlihat biasa padahal luar biasa

Beliau lahir tahun 1902 M, tahun 2025 ini umurnya sudah sekitar 123 tahun. Alhamdulillah beliau tetap sehat bugar serta kuat bercerita dengan kami. Cerita beliau bukan tong kosong nyaring bunyinya, tapi mensyarahi ilmu dan pengalaman yang jarang ada di dalam buku. Itu hal yang lumrah, karena beliau juga merupakan pasukan yang ikut berjuang bersama KH. Hasyim Asyari pada pertempuran 10 November 1945. Dalam rentetan ceritanya kepada kami, beliau menyampaikan tentang salah satu rahasia dalam kitab Hasyiyah Bajuri. Beliau menuturkan bahwa dalam kitab Hasyiyah Bajuri terdapat ilmu hikmah yang keakuratannya pasti dan bukan sekedar kira-kira maupun prediksi belaka.

Beliau mengarahkan kami untuk memiliki kitab Hasyiyah Bajuri, sehingga bisa menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan serta menyelaminya untuk bekal perjuangan dalam masyarakat. Kami patuh terhadap perintah beliau, sehingga tiga hari kemudian setelah sowan beliau, kami berniat untuk memiliki kitab Hasyiyah Bajuri.

Menjalankan Titah Kiai Sepuh

Kami keliling Kota Malang hingga sampai di toko buku islami yang cukup besar di Kota Malang yaitu toko buku Bayakub, tempatnya di area pasar besar dekat alun-alun. Masuk ke dalam toko itu, yang kami tanyakan pertama kali kepada penjaga toko adalah ‘di mana tempat kitab Hasyiyah Bajuri?’. Ia mengantarkan kami ke rak yang berjejer kitab tersebut.

Penjaga toko menjelaskan kepada kami variasi harga kitab tersebut, mulai dari cetakan yang kualitas rendah, kualitas sedang hingga kualitas tinggi. Kami bolak-balik sampul bukunya sambil berfikir keras ingin variasi yang mana. Dalam hati kami ingin memilih yang kualitas terbaik, tapi harganya tidak ramah di dompet. Ingin memilih yang ramah di dompet tapi kualitasnya kurang bagus. Kami merenung sambil menghitung jejeran bung karno dan bung hatta di dompet, dan  memutuskan membeli kualitas yang terbaik. Dengan kesadaran penuh, ketika membeli cetakan kualitas terbaik itu, otomatis ketika bayar, uang kami akan habis dan tersisa cuma jejeran patimura. Kami niatkan untuk melaksanakan sebaik mungkin titah Kiai Sepuh tanpa perhitungan.

karena momen itu bertepatan bulan Ramadhan, kami juga membeli kurma tunisia yang masih ada tangkainya untuk keluarga di rumah. Tidak nanggung-nanggung, kami beli size yang paling besar harganya ratusan ribu. Kami juga membelikan kurma kepada teman yang membersamai kami ke toko tersebut. Sehingga benar-benar di dompet, jejeran patimura pun malu menampakkan senyumnya.

Peristiwa di Luar Nalar

Setelah selesai belanja, kami menuju ke kasir. Kalau kami hitung, total belanja kami kisaran satu juta rupiah. Itu sudah meliputi kitab Hasyiyah Bajuri dan Kurma Tunisia. Kami sodorkan barang belanjaan kami ke kasir, kemudian kasir bertanya ‘buat belajar ya mas?’ kamipun menjawab ‘iya pak’. Kasir menyahut jawaban kami dengan lantang ‘oke mas, semua barang belanjaanya sampean sudah ada yang membayari semuanya’. Kami memastikan sekali lagi apakah kasir ini khilaf atau bagaimana, ‘sudah ada yang bayari semuanya mas? kemudian kasir menegaskan dengan mantab ‘iya mas, sudah ada yang bayari semuanya’ . Kami tertegun, membatu dan tidak bisa berkata-kata.

Kamipun keluar dari toko sembari masih bertanya-tanya, siapa yang membayari barang belanja kami padahal totalnya sekitar satu jutaan. Ya Allah.. Dari peristiwa ini kami semakin yakin bahwa Kiai sepuh yang kami sowani beberapa hari lalu, bukan orang biasa. Beliau memerintah untuk membeli kitab Hasyiyah Bajuri bukan sekedar memerintah, tapi ada sirri yang beliau lakukan sehingga kami mendapatkannya secara gratis tis tis tanpa membayar sepeserpun.

Kami juga memikirkan kenapa saat itu cuma membeli kitab dan kurma (makanan). Sepertinya memang, ada pesan tersirat dari Kiai sepuh tentang dua barang tersebut yang harus kami pegangi serta jalankan keduanya dalam bermasyarakat, yaitu

Kitab melambangkan ilmu. Kurma melambangkan rezeki.

Wallahu a’lam.

Previous Article

Pondok Tegalsari dan Sastra Keraton Surakarta

Next Article

Menjadi Kaya dari Desa, Apakah Bisa ?

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *