Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali – Tan Malaka
Mengenal Prof. Dr. Nanik Siti Aminah Dra. M.Si sejak dua tahun lalu
Prof. Nanik merupakan dosen Kimia di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Surabaya Jawa Timur. Beliau menyumbangsihkan kehidupannya untuk ilmu pengetahuan. Tapi tidak cukup sampai disitu, beliau ingin ilmu pengetahuan itu bisa berdampak, dirasakan dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Pandangan hidup inilah yang jarang dimiliki seorang Profesor kebanyakan.
Prof. Nanik ‘membumi’ dengan masyarakat pedesaan, terlebih di desa kami, desa Senden, Kampak, Trenggalek. Beliau datang tidak bersikap sebagai ‘seorang profesor yang punya segudang pengalaman dan serba bisa’, akan tetapi beliau datang dengan bersahaja serta meneladani pola hidup yang sederhana. Makan tidak gengsi dengan lauk tempe ataupun sambel pecel, istirahat malam tetap lelap di rumah sederhana meskipun dengan iringan suara jangkrik di kebun samping rumah. Ngobrol dengan petanipun gayeng sebagaimana sesama petani, bukan menonjolkan gelar profesornya.
Orang Nigeria yang jadi saudara
Prof. Nanik tidak hanya datang sendiri, tapi mengajak murid-muridnya juga untuk merasakan ‘angin surga’ di kampung kami. Muridnya bukan hanya orang Surabaya, tapi orang Nigeria. Bukan hanya orang pekalongan tapi orang Pakistan dan Afganistan. Bukan hanya orang Blitar tapi orang Myanmar. Terlebih, yang menjadi sahabat karib kami sampai sekarang dan selamanya yaitu, Abdullahi Musa dari Nigeria, Afrika Barat. Beliau seorang Muslim sama seperti kami. bedanya kualitas beliau lebih ‘Ampuh’ karena hafal al-Quran 30 Juz, sementara kami cuma hafal Juz 30.

Begitupun Mas Musa inipun meneladani Gurunya. Menempuh pendidikan Doktor tidak lantas mengubah kesahajaannya. Sarapan khas masakan Trenggalek juga lahap (bahkan sering nambah. hehe). Tertib ke Masjid untuk berjamaah bareng, atau bahkan main playstation pro Evolution Soccer hingga larut malam dengan kami.

Harapan dari anak desa
Daerah kami di desa Senden, Kampak, Trenggalek memang sangat butuh sosok yang perlu menjadi pemantik inspirasi. Butuh sosok teladan dalam tindakan bukan hanya ucapan. Butuh sosok yang merangkul tapi tidak memukul. Butuh manusia cerdas nan bersahaja bukan pintar tapi congkak kepada sesama. Butuh manusia yang mengajak bukan mengejek. Butuh manusia berilmu yang tidak menggerutu.
Kami renungkan, ‘hausnya’ kebutuhan itu tersirami oase pada sosok kesahajaan Prof. Nanik dan murid-muridnya. Semoga persaudaraan dan kekeluargaan ini tetap terjaga selamanya. Teringat dawuh metafora Prof. Nanik saat berkunjung ke rumah kami,
Sebenarnya cita-cita saya banyak, tapi kakinya cuma dua. hehe
kamipun dalam hati bergumam, “Kami siap menjaga obor cita-cita itu agar tetap menyala, Prof”. Aaaaamiin.