KH. Munsif Nachrowi Tohir dan Kesederhanaan

KH. Munsif Nachrowi Tohir

Bumi Bungkuk

Bumi bungkuk, Singosari ibarat ‘Mesin’ yang memahat Kiai-Kiai Karismatik, modis, gagah, necis, organisatoris visioner sekaliber Nasional, bahkan Internasional. Bergerak dalam khazanah keilmuan yang di kombinasikan dalam ruh pemerintahan dan harakah ‘keramat’ perjuangan. Antara lain seperti :

KH. Hamimuddin (Laskar Pangeran Diponegoro yang mendirikan pesantren Bungkuk)

KH. Thohir (Guru mbah Hasyim Asyari)

KH. Nachrowi Thohir (salah satu pendiri Nahdlatul Ulama)

KH. Masykur (pahlawan yang mengomando Laskar Sabilillah zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia),

KH. Tolchah Hasan (Mustasyar PBNU sekaligus Menteri Agama era Gus Dur),

Dan yang fotonya kami pasang disini, Adalah KH. Munsif Nachrowi Thohir.

Kiai yang Mastur

Sebagian masyarakat, bahkan dari kalangan NU pun kadang belum kenal siapa beliau (KH. Munsif Nachrowi Tohir). Hal itulah yang membuat legitimasi kesederhanaan benar-benar melekat erat dalam diri beliau. Padahal, beliau merupakan Putra salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, yaitu KH. Nachrowi Thohir, dari Bungkuk, Singosari yang kami sebutkan tadi.

KH. Munsif Nachrowi Tohir adalah saksi romansa berdirinya IPNU dan PMII yang menjadi banom maupun sayap dari Nahdlatul Ulama. Beliau adalah Teman karib dari KH. tolchah Mansur.  Beliau mukim dirumah (ndalem) sederhana dekat Masjid at Thohiriyah (Bungkuk, Singosari).

Secara kasat mata, rutinitas beliau di Ndalem bungkuk seperti Halnya manusia biasa. Pergi ke Masjid  sering menjadi makmum, kumpul anak muda seperti teman ‘nongkrong’ beliau serta tidak ada sekat yang dominan, pegang hape masih sangat teliti meskipun saat itu usia beliau sudah senja, menyopir mobil masih seperti Dominic torreto di Fast and Furious, serta sangat hafal dengan nama anak yang sering ke ndalem beliau.

Akan tetapi, di balik tabir kelihatan seperti orang biasa itu, malah Orang-orang tertentu dari kalangan pejabat hingga rakyat, organisatoris hingga kalangan akademis, politisi hingga Sufi, pernah sowan dan minta arahan kepada beliau. Sangat unik.

Kami pernah ke ndalem beliau beberapa kali. kalau anak-anak lain terbiasa di ‘pinarakken’ di ruang tamu atau ruang tengah ndalem beliau, kami malah di ajak duduk di Dapur ndalem beliau. Sambil makan, buat kopi sendiri hingga nyuci gelas sendiri. Kami belum tahu apa makna dari itu semua.

Tapi yang pasti, kami selalu terpatri dawuh dari beliau yang menjadi kunci ‘keramat’ nya kakek beliau (Mbah Thohir). Antara lain yaitu Uzlah, Mengurangi makan, Mengurangi tidur, dan tidak banyak bicara.

Kamis 14 November 2024 beliau (KH. Munsif Nachrowi Tohir) wafat. Dimakamkan Jumat Legi, 15 November 2024. di kompleks makam Keluarga Bungkuk, Singosari.

Sugeng tindak, Kiai. Malang semakin sepi bagi kami, karena salah satu ‘jujugan’ ruhaniyah kami telah pergi. Semoga kami dapat meneladani semua nilai-nilai kesederhanaan panjenengan, Kiai.

Wallahu a’lam.

Baca juga : Peristiwa di Luar Nalar dan Kitab Hasyiyah Bajuri

Previous Article

Menjadi Kaya dari Desa, Apakah Bisa ?

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *