Jadi Finalis Sociopreneur dengan Modal Dengkul

Finalis OPOP Jatim 2021

Tahun 2021 diadakan kompetisi bisnis sociopreneur yang diakomodir oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dalam program One Pesantren One Product. Ratusan orang berlomba untuk bisa memenangkan hadiah jutaan rupiah dari Gubernur Jawa Timur dengan mempersembahkan produk terbaiknya yang sudah dijalankan bertahun-tahun, membrandingnya dengan lihai agar memenangkan hati dewan juri. Berbeda dengan bisnis kami yang masih seumur jagung, jalan beberapa bulan belum genap satu tahun. kamipun tidak muluk-muluk untuk memenangkan kompetisi, karena melihat kualitas peserta lain yang lebih baik dan tertata daripada kami.

Saat itu, Kami menjalankan bisnis hanya dari sudut pondok pesantren yang sederhana, tidak ada gudang besar seperti pabrik, tidak ada karyawan berlusin-lusin, tidak ada alat distribusi produk yang mumpuni, yang kami punya hanyalah Laptop. Dari laptop itulah kami bisa mengenalkan kepada dunia tentang produk kami, kami menjalankan shoppe Ads, Facebook Ads serta Website untuk menjelaskan produk kami yang masih seumur jagung kepada khalayak luas. Dampaknya, produk kamipun dikenal hingga mancanegara sampai ekspor ke Hongkong dan Malaysia.

Seleksi ratusan peserta dimulai, tidak disangka bisnis kami masuk ke semi final, kami sudah berbahagia dan merasa cukup karena sudah mengalahkan ratusan peserta lainnnya. kami tidak muluk-muluk jikalau tidak sampai tahap final. Akan tetapi, takdir berkata lain. Alhamdulillah, presentasi bisnis kami memuaskan dewan juri hingga kami masuk menjadi finalis kompetisi ini.

Kami mempresentasikan bisnis wedangsari diliput oleh Inews

Finalisnya ada 5 pebisnis, 4 pebisnis sudah jalan bertahun-tahun dengan karyawan yang banyak dan penataan ideal. Sementara kami satu-satunya pebisnis yang masih seumur jagung bahkan belum genap satu tahun, bahkan manajemen bisnisnya hanya dari tempat sederhana. Hanya saja, yang menjadikan kami lebih unggul daripada yang lain adalah penguasaan digital marketing. 4 pebisnis lain lebih lihai dalam produksi, tapi tidak lihai dalam promosi. Mereka Lebih tenar karena karyawan, kami lebih tenar hingga mancanegara karena advertising iklan. Mereka lebih senang konvensional, kami lebih cerdik dalam digital. Begitulah faktanya di zaman yang serba digital ini, bahkan kami bisa jadi finalis dan mendapatkan hadiah jutaan rupiah hanya dengan modal dengkul, bukan? memang benar bahwa

Sekarang adalah era yang cepat akan mengalahkan yang lambat. Bukan yang besar mengalahkan yang kecil.

 

Previous Article

Puisi Mbeling untuk Politik

Next Article

Pondok Tegalsari dan Sastra Keraton Surakarta

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *