Mengenal Pondok Pesantren Tegalsari
Pondok Pesantren Tegalsari atau terkenal dengan Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari adalah salah satu pesantren bersejarah di Indonesia yang terletak di desa Tegalsari, kecamatan Jetis, kabupaten Ponorogo. Pesantren tersebut eksis dari pertengahan abad ke-18 sampai sekitar awal abad ke-20. Pendirinya adalah Kiai Ageng Muhammad Besari, kemudian diteruskan oleh putranya Kiai Ageng Ilyas Besari, serta cucunya Kiai Ageng Hasan Besari. Ketiganya memiliki kapasitas keilmuan Islam luar biasa, tersohor di daerah Mataraman hingga menjadi penasehat spiritual raja-raja keraton surakarta (Pakubuwono II – IV).
Salah satu metode dakwahnya adalah dengan mengembangkan sastra yang berisi pembelajaran tauhid Islam Ahlussunnah wal Jamaah, mulai dari Sifat Wajib Allah, Sifat Wajib Rasulullah, Sifat Mustahil Allah, Sifat Mustahil Rasul serta sirah nabawiyah. Bentuk sastranya bukan berbahasa arab murni, akan tetapi dikemas dengan bahasa jawa. Sehingga masyarakat mudah memahami bait-bait syairnya. Hal ini juga pernah kami teliti untuk menyelesaikan tesis magister kami yang berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Tauhid dalam Tradisi Salalahuk.
Dari kegelisahan menjadi Penemuan Besar
Penemuan ini, bermula dari kegelisahan kami terhadap tradisi salalahuk (melantunkan syair jawa setelah sholat tarawih) di daerah kami, Trenggalek yang sudah mulai luntur dan minim peminat, hanya mbah-mbah sepuh segelintir yang mau untuk mengikuti tradisi ini, sementara kawula muda setelah tarawih langsung pulang (atau bahkan banyak yang gak tarawih. hehe). Kami meyakini ini tradisi dari para pendahulu yang perlu dilestarikan, karena memiliki peran sentral untuk menjaga aqidah Ahlussunnah wal Jamaah di masyarakat. Sehingga kami berniat untuk menelusuri darimana sebenarnya tradisi salalahuk ini bermula.
Langkah yang kami lakukan adalah sowan ke pondok Tegalsari, bertemu dengan Dzurriyah Kiai Ageng Muhammad Besari (bu Nyai Wardani) dan Menantunya (Mas Agus). Pertanyaan demi pertanyaan kami haturkan kepada beliau berdua, tapi beliau masih asing ketika kami tanyakan tentang tradisi salalahuk dan syair salalahuk. Tiba-tiba beliau menyodorkan kami tulisan syair yang masih langgeng lantunannnya di masjid Tegalsari setiap ba’da magrib, yakni Syair Utawen. Kami amati bait-bait syair utawen Tegalsari itu, kami cocokkan dengan syair salalahuk Trenggalek, ternyata keduanya memiliki bait-bait syair yang sama. Dari situ kami menyimpulkan bahwa keduanya sebenarnya sama, tapi penamaan judulnya saja yang berbeda.
Kemudian, kami juga penasaran dengan Syair Syahadat Quraish yang langgeng pengamalannya dalam lingkup keraton Surakarta, biasanya diamalkan ketika haul Sultan Agung maupun raja-raja Surakarta. Bait-baitnya pun mirip dengan Syair Salalahuk dan Syair Utawen. Kami menanyakan kepada bu Nyai Wardani perihal itu, dan beliau ngendikan “ya pantes mas, wong Mbah Hasan Besari adalah menantu raja Pakubuwono”.
3 Syair yang sama
Dari dawuh bu Nyai wardani tersebut bisa disimpulkan, bahwa sebenarnya Syair utawen, Syair Salalahuk dan Syair Sahadat Quraish ini memiliki bait-bait yang sama, hanya saja penamaan judulnya yang berbeda. kesemuanya merupakan syair jawa yang memiliki muatan islami untuk mengedukasi dan mengawal aqidah Ahlussunnah wal Jamaah di Masyarakat. Begitulah cerdasnya ulama zaman dulu dalam menyebarkan agama Islam, bukan dengan pedang maupun konten tekstual. Akan tetapi intisari ajaran Islam dikemas sesuai dengan wadah yang lebih ramah untuk diterima oleh masyarakat.
Wallahu a’lam.